
Otak akan selalu berhubungan dengan pikiran manusia. Sementara pikiran, adalah pemimpin dan pelopor dari semua tindakan manusia. Kitab Amsal 27:3, menuliskan: sebagaimana dia berpikir dalam hatinya, demikianlah dia jadinya. Apa artinya? Artinya bahwa, apa yang dipikirkan seseorang, itulah dia sebenarnya! (Bandingkan Roma 8:5).
Joyce Meyer (dalam Busthan Abdy, 2016:115) menyatakan bahwa tindakan-tindakan kita adalah akibat langsung dari pikiran-pikiran kita. Jika kita berpikir negatif, maka kehidupan akan negatif; jika kita berpikir positif, kita pun akan melakukan hal positif. Ini menandakan bahwa apa yang dipikirkan adalah juga siapakah kita sebenarnya atau menjadi seperti apa kita jadinya. Itulah sebabnya, maka proses kerja otak harus difungsikan dengan baik dan efektif.
Otak adalah perangkat keras jiwa. Otak merupakan perangkat keras esensi Anda sebagai manusia. Anda tidak dapat menjadi orang yang Anda dambakan apabila otak tidak bekerja dengan benar. Daniel G Amen (1998) seorang psikiater berkelas dunia, menegaskan bahwa cara kerja otak sangat menentukan kebahagiaan dan efektifitas perasaan serta kualitas interaksi Anda dengan orang lain. Apa yang diungkapkan Daniel ini bukanlah suatu isapan jempol belaka. Sebab kenyataannya, otak memiliki peranan dalam semua yang dilakukan manusia, khususnya dalam keterampilan berpikir.
Otak adalah bagian pertama yang harus dipikirkan saat berusaha memahami apa saja yang mau dipahami. Semua penangkapan objek selalu melibatkan bagaimana penyimak menggunakan efektifitas otak sebagai bagian dari berpikir dalam mengerti dan memahami.
Teori kognitif menekankan bahwa bagian-bagian dari suatu situasi saling berhubungan dengan seluruh konteks dari situasi tersebut. Penegasan teori ini bahwa, belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, pengolahan informasi, emosi, dan aspek-aspek kejiwaan lainnya. Itu sebabnya, belajar dipandang sebagai aktivitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.
Teori belajar kognitif muncul ketika timbul reaksi terhadap kondisi yang menggambarkan kelemahan mendasar dalam teori behavioristik yang cenderung mengutamakan perubahan perilaku secara kasat mata (Busthan Abdy, 2016:117).
Teori belajar kognitif dimulai dari perkembangan Psikologi Gestalt yang dipelopori oleh Marx Wertheimer—walaupun sebenarnya jika diurut jauh ke belakang, yakni pada masa Yunani kuno, maka awalnya teori ini berkembang melalui filsafat Plato dan Aristoteles (seperti halnya pada teori behavior). Tetapi kemudian, Jean Piaget justru lebih terkenal sebagai pengembang teori belajar kognitif dan teori konstruktif.
Namun, ketika psikologi kognitif ini kemudian berkembang menjadi “teori” dalam belajar kognitif, maka pandangan seorang Yahudi, Kurt Lewin (1890-1947), adalah peletak batu pertama dan pembuka pintu gerbang besar untuk memahami lebih dalam lagi tentang teori kognitif ini.
Pengertian Teori Belajar Kognitif
Untuk memahami tentang teori belajar kognitif, ada dua pendapat ahli yang dapat dijadikan acuan mendasar sejak kemunculan teori belajar kognitif hingga saat ini.
Kedua. Bell-Gredler (1986) dalam Busthan Abdy (2016:118-119) menyatakan bahwa strategi kognisi sebagai suatu proses berpikir induktif, yang dapat membuat generalisasi dari fakta, konsep, dan prinsip dari apa yang diketahui oleh seseorang. Dalam hal ini strategi kognitif tidak berkaitan dengan ilmu yang dimiliki seseorang, melainkan lebih berhubungan dengan suatu kemampuan berpikir internal yang dimiliki seseorang dan dapat diterapkan dalam berbagai bidang ilmu yang dimiliki seseorang. Namun, latar belakang pendidikan formal sangat mempengaruhi keterampilan berpikir seseorang. Karena biasanya, melalui pendidikan formal, seseorang sudah dibekali dengan analisis, sintesis, dan evaluasi. Dan melalui keterampilan berpikir ini, maka para peserta didik juga dapat hidup dengan mandiri, mampu menganalisa, memecahkan masalah, dan mampu mengambil keputusan dari fenomena-fenomena disekitar mereka.
Berdasarkan kedua pengertian strategi kognitif di atas, dapatlah dipahami bahwa fokus utama teori belajar kognitif adalah pada proses belajar dari pada hasil belajarnya. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon saja, tetapi belajar juga melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Sehingga belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman ini tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati secara kasat mata seperti pada konsep teori belajar behavioristik.
Daftar Pustaka:
Busthan Abdy (2016). Teori Belajar dan Pembelajaran: Behavioristik, Kognitivistik, Konstruktivistik, Humanistik. Kupang: Desna Live Ministry
Post a Comment