Halloween party ideas 2015
Showing posts with label Update Pengetahuan. Show all posts



Filsafat pragmatisme, mencoba mengisi ruang dan waktu untuk turut mencari solusi terbaik terhadap model pendidikan yang dianggap selangkah ketinggalan dengan perkembangan pola pikir manusia itu sendiri. 


 Seiring dengan perkembangannya, dunia pendidikan berupaya menyelaraskan antara eksplorasi pikiran manusia dengan solusi tindakan bersama perangkatnya untuk mencapai posisi puncak temuan. 

Tekanan pertama dan utama pragmatisme dalam pendidikan dilandaskan bahwa peserta didik bukanlah objek, melainkan subjek yang memiliki pengalaman. Setiap subjek didik tidak lain adalah individu yang mengalami, sehingga mereka berkembang, serta memiliki insiatif dalam mengatasi problem-problem hidup yang mereka miliki. 

Dalam pelaksanaannya, pendidikan pragmatisme mengarahkan agar subjek didik (siswa) saat belajar di sekolah tak berbeda ketika ia berada di luar sekolah. Oleh karenanya, kehidupan di sekolah selalu disadari sebagai bagian dari pengalaman hidup, bukan bagian dari persiapan untuk menjalani hidup. 

Di sini pengalaman belajar di sekolah tidak berbeda dengan pengalaman saat ia belajar di luar sekolah. Pelajar menghadapi problem yang menyebabkan lahirnya tindakan penuh dari pemikiran yang relatif. Dan kecerdasan disadari akan melahirkan pertumbuhan dan pertumbuhan akan membawa mereka di dalam beradaptasi dengan dunia yang selalu berubah. Ide gagasan yang berkembang menjadi sarana keberhasilan. 

Model pembelajaran pragmatisme adalah anak belajar di dalam kelas dengan cara berkelompok. Dengan berkelompok anak akan merasa bersama-sama terlibat dalam masalah dan pemecahanya. Anak akan terlatih bertanggung jawab terhadap beban dan kewajiban masing-masing. Sementara guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan motivator saja. Model pembelajaran ini berupaya membangkitkan hasrat anak untuk terus belajar, serta anak mampu dilatih berpikir secara logis. 

Sebagaimana diungkapkan oleh Power (dalam Sadulloh, 2003) bahwa implikasi penting dari filsafat pendidikan pragmatisme dalam pelaksanaan pendidikan, mencakup beberapa hal pokok berikut ini: 

Tujuan Pendidikan. Tujuan dari pelaksanaan pendidikan pragmatisme adalah memberikan pengalaman untuk penemuan hal-hal baru dalam hidup sosial dan pribadi peserta didik. 

Kedudukan Siswa. Kedudukan para siswa dalam pendidikan pragmatisme adalah merupakan suatu organisasi yang memiliki kemampuan yang luar biasa dan kompleks untuk tumbuh. 

Kurikulum. Dalam hal ini, kurikulum pendidikan pragmatis berisi pengalaman yang teruji yang dapat diubah. Demikian pula minat dan kebutuhan siswa yang dibawa ke sekolah dapat menentukan kurikulum. Guru menyesuaikan bahan ajar sesuai dengan minat dan kebutuhan anak tersebut. 

Metode. Metode yang digunakan dalam pendidikan pragmatisme adalah metode aktif, seperti: Learning by doing (belajar sambil bekerja), metode pemecahan masalah (problem solving method), metode penyelidikan, dan metode penemuan (inquiri and discovery method). 

Peran Guru. Dalam praktiknya (mengajar), metode ini sangat membutuhkan guru yang selalu memberikan kesempatan, bersahabat, pembimbing, berpandangan terbuka, antusias, kreatif, dan sadar bermasyarakat, siap siaga, sabar, bekerjasama, serta bersungguh-sungguh, agar belajar berdasarkan pengalaman dapat diaplikasikan oleh siswa dan apa yang dicita-citakan dapat tercapai. Untuk itu, peran guru dalam pendidikan pragmatisme adalah mengawasi dan membimbing pengalaman belajar siswa, tanpa mengganggu minat dan kebutuhannya. 

Selain poin-poin di atas, pendidikan pragmatisme kerap dianggap sebagai pendidikan yang mencanangkan nilai-nilai demokrasi dalam ruang pembelajaran sekolah. Karena pendidikan bukan ruang yang terpisah dari sosial, setiap orang dalam suatu masyarakat juga diberikan kesempatan untuk terlibat dalam setiap pengambilan keputusan pendidikan yang ada. Keputusan-keputusan tersebut kemudian mengalami evaluasi berdasarkan situasi-situasi sosial yang ada. 

Oleh: Abdy Busthan



Dalam bahasa Belanda, istilah “statistik” ditulis dengan kata “staat”, yang merupakan kata serapan dari Bahasa Latin:“status”. Kata ini memiliki pengertian yang sama dengan pengertian kata “state” yang digunakan dalam Bahasa Inggris, dimana dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai “negara”.


Gottfried Achenwall (1749) dalam Busthan Abdy (2017:11), menggunakan istilah statistik dalam bahasa Jerman untuk pertama kalinya sebagai nama bagi sebuah kegiatan analisis data kenegaraan, yaitu dengan mengartikannya sebagai “ilmu tentang negara (state)”. 

Namun pada awal abad ke-19 telah terjadi pergeseran arti menjadi “ilmu mengenai pengumpulan dan klasifikasi data”. Sir John Sinclair memperkenalkan nama (statistics) dan pengertian ini ke dalam bahasa Inggris.

Jadi statistik secara prinsip, awalnya berkaitan dengan persoalan-persoalan pengurusan data yang dipakai lembaga-lembaga administratif dan pemerintahan dalam sebuah negara. Pengumpulan data terus berlanjut, khususnya melalui sensus yang dilakukan secara teratur untuk memberi informasi kependudukan yang berubah-ubah setiap saat.

Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, istilah statistika mulai banyak digunakan dalam bidang matematika, terutama mengenai persoalan peluang. Cabang statistika yang pada saat ini sangat luas digunakan untuk mendukung metode ilmiah adalah statistika inferensi, yang dikembangkan pada paruh kedua abad ke-19 dan awal abad ke-20, oleh beberapa pakar statistik seperti: Ronald Fisher (peletak dasar statistika inferensi), Karl Pearson (metode regresi linear), dan William Sealey Gosset (meneliti problem sampel berukuran kecil). 

Pembatasan Definisi Statistik
Secara universal, definisi statistik dapat dibatasi ke dalam dua rumpun pengertiannya, yaitu: 1) batasan umum; dan 2) batasan khusus. Penjelasannya sebagai berikut:

Batasan Umum. Kata statistik (statistic) telah banyak digunakan membatasi cara-cara ilmiah untuk hal-hal seperti: mengumpulkan, menyusun, meringkas, dan menyajikan data penyelidikan. Lebih lanjut, bahwa statistic merupakan cara untuk mengolah data tersebut dan menarik kesimpulan-kesimpulan yang diteliti dan keputusan-keputusan logis dari pengolahan data tersebut (Hadi, 2004). 

Batasan Khusus. Kata statistik juga digunakan untuk menunjuk kepada angka-angka pencatatan dari suatu kejadian atau kasus tertentu seperti misalnya:
  • Statistik bentuk badan Miss universe: 38 – 22 – 36 (dada – pinggang – pinggul).
  • Statistik kecelakaan lalu lintas: januari 6, februari 38, Maret 21,....
  • Statistik tinggi badan rata-rata: rata-rata T = 164 cm, dst..

Secara terminologi, kata statistik ini dapat diberikan pengertian yang beragam, dan masing-masing pengertian tergantung pada pemakaian atau penggunaan kata. 

Menurut Busthan Abdy (2017:12-14), secara universal terminologi kata "statistik" ini bisa dibagi menjadi 5 bagian, yaitu:

Pertama. Kata statistik dengan pengertian sebagai data statistik. Data Statistik ialah bahan-bahan keterangan yang berupa angka atau bilangan dengan persyaratan-persyaratan tertentu. Misalnya: apabila kita menyebut statistik NTCR, maka kata statistik dalam ungkapan kata ini mengandung pengertian: bahan-bahan keterangan mengenai (yang berhubungan dengan) peristiwa-peristiwa NTCR, yaitu: Nikah, Talak, Cerai dan Rujuk, yang tertuang dalam bentuk angka-angka atau bilangan-bilangan. 

Kedua. Kata statistik dengan pengertian sebagai daftar (tabel) atau keadaan. Misalnya: di halaman-halaman surat kabar misalnya, sering dijumpai kata-kata Statistik ke-9 Bahan Pokok Kebutuhan Hidup Sehari-hari (Beras, gula pasir, garam, minyak tanah, minyak goreng, kain blaco dan lain sebagainya). Kata Statistik di sini mengandung pengertian sebagai sebuah daftar atau tabel yang  dalamnya dilukiskan atau disajikan bahan-bahan keterangan mengenai keadaan harga-harga sembilan macam bahan pokok kebutuhan sehari-hari. 

Ketiga. Kata statistik, dengan pengertian sebagai Kegiatan Perstatistikan atau Kegiatan Penstatistikan. Misalnya: Biro Pusat Statistik, adalah sebuah biro (Unit Kerja) pada suatu instansi yang bidang kegiatannya atau tugas pokoknya adalah menangani kegiatan-kegiatan perstatistikan atau penstatistikan.

Keempat. Kata Statistik dengan pengertian sebagai Metode Statistik. Tidak jarang pula kata statistik diberi pengertian sebagai Metode Statistik. Yang dimaksud dengan Metoe Statistik ialah cara-cara mengumpulkan, mengolah, menyajikan dan menganalisa data angka dengan secara teratur, ringkas dan jelas, dengan tujuan agar dapat memberikan deskripsi (pelukisan atau penggambaran) tentang keadaan data dimaksud. Misalnya, seorang dosen memberikan petunjuk atau bimbingan kepada salah seorang mahasiswa yang sedang menyusun Skripsi Sarjana, agar analisa datanya dilakukan secara Statistik. Ini mengandung pengertian bahwa mahasiswa tersebut diminta Dosen Pembimbingnya untuk mempergunakan Metode Statistik dalam rangka penganalisaan datanya. 

Kelima. Kata Statistik dengan pengertian Ilmu Statistik. Dimaksud dengan Ilmu Statistik ialah Ilmu pengetahuan yang membahas atau mempelajari tentang cara-cara pengumpulan data, pengolahan, penyajian, penganalisaan dan penarikan kesimpulan-kesimpulan terhadap data yang berwujud angka (bilangan), serta menyusun ramalan-ramalan secara ilmiah (prediction) atas dasar angka tersebut.


Rujukan Buku:

Busthan Abdy. (2017). Pengantar Dasar Statistik Pendidikan. (hal.10-14). Kupang: Desna Life Ministry



Oleh: Abdy Busthan

Abraham Harold Maslow, mendeklarasikan dirinya sebagai salah satu ilmuan terkenal sepanjang masa, dan tokoh humanistik terpopuler hingga detik ini, dengan menggagas teori yang sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang ilmu apapun dan kajian manapun, 

yaitu teori “Hierarki Kebutuhan Maslow”. 

Ya, Maslow adalah salah satu dari sekian banyak jenius Yahudi yang pernah menaklukkan dunia dengan kepintarannya. Maslow lahir dan dibesarkan di negara Rusia, yang kemudian muncul sebagai salah satu psikolog Amerika yang termasyur dengan konsep “Hierarki kebutuhan Maslow”, yaitu teori kesehatan psikologis yang didasarkan pada pemenuhan kebutuhan bawaan manusia dalam prioritasnya, yang berpuncak pada aktualisasi diri. 

Hierarki kebutuhan tersebut, terdiri dari: 1) Kebutuhan fisiologis atau dasar panjang masa; 2) Kebutuhan akan rasa aman; 3) Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi; 4) Kebutuhan untuk dihargai; 5) Kebutuhan untuk aktualisasi diri. 

Maslow juga seorang Profesor Psikologi yang berasal dari Brandeis University, Brooklyn College, yaitu sekolah dalam bidang penelitian sosial. Dimana sebelumnya Maslow diketahui berasal dari Columbia University. 

Dalam kajian psikologi humanistiknya, Maslow menekankan tentang pentingnya fokus pada kualitas positif seseorang—yaitu suatu perlawanan memperlakukan mereka dengan cara yang disebut Maslow sebagai "a bag of symptoms” (kantong gejala). 

Masa Kecil Maslow Sang Cacat 
Maslow lahir pada tanggal 1 April 1908, dan dibesarkan di daerah Brooklyn, New York, dimana dia dilahirkan sebagai anak tertua dari tujuh orang bersaudara. Namun, menurut para psikolog, Maslow merupakan anak yang lahir dalam keadaan “mentally unstable” (tidak stabil secara mental).

Orang tua Maslow adalah generasi pertama kaum imigran Yahudi dari negara Rusia, yang saat itu melarikan diri dari penganiayaan Tsar pada awal abad ke-20. Kedua orang tua Maslow tinggal di New York City, di lingkungan multi-etnis, yaitu lingkungan kelas para pekerja. Orang tua Maslow miskin dan tidak memiliki orientasi intelektual apapun. 


Tetapi mereka sangat menghargai pendidikan, sehingga hal ini berdampak pada perkembangan Maslow selanjutnya.  Saat di sekolah, Maslow mengalami perlakuan anti-semitisme dari gurunya dan dari anak-anak lain di sekitar lingkungannya. Itu sebabnya, masa kecil adalah waktu yang amat sangat sulit bagi Maslow. 

Saat itu, ia dikucilkan dari lingkungan sekitar ia berada. Perlakuan ini diterimanya karena keadaan tubuhnya yang banyak memiliki kekurangan fisik dan mental—bahkan ia sering kali bertemu dengan geng anti-Semit yang selalu mengejar dan melemparinya dengan batu. 

Pada saat itu, Maslow dan anak-anak lain yang sama latar belakang keadaan fisik dengannya, selalu berjuang untuk mengatasi tindakan seperti “rasisme” dan “prasangka etnis” dalam upaya untuk membangun dunia idealis berdasarkan pendidikan yang luas dan keadilan moneter.

Selain ketegangan di luar rumahnya, justru terasa lebih tegang lagi kondisi di dalam rumahnya sendiri. Ia jarang bergaul dengan ibunya dan saudara-saudaranya. Seperti dikutip dari “Wikipedia; The Free Encyclopedia”, edisi 4 Maret 2014, yang menuliskan..

...“What I had reacted to was not only her physical appearance, but also her values and world view, her stinginess, her total selfishness, her lack of love for anyone else in the world—even her own husband and children—her narcissism, her Negro prejudice, her exploitation of everyone, her assumption that anyone was wrong who disagreed with her, her lack of friends, her sloppiness and dirtiness.."He also grew up with few friends other than his cousin Will, and as a result"...(He) grew up in libraries and amongbooks”

Segala bentuk perlakuan diskriminasi yang diterima Maslow karena kekurangan mentalnya—baik itu diluar rumah, maupun didalam rumahnya sendiri—sebenarnya begitu sangat memprihatinkan dan merugikan untuk seorang anak kecil yang sedang bertumbuh dan berkembang pada usia kanak-kanak.

Semua orang pada masa itu, bereaksi negatif melihat Maslow, sehingga Maslow hampir tidak memiliki teman. Dia juga dibesarkan dengan beberapa teman selain sepupunya Will, dan sebagai hasil dari pengucilan terhadap dirinya, akhirnya dia sering mengunjungi perpustakaan-perpustakaan sebagai tempatnya berlindung dari kejamnya nasib yang di deritanya dalam dunia ini.

Akhirnya, Maslow pun terbiasa dengan dunia buku, dan dibesarkan di perpustakaan, sehingga diantara buku-buku inilah, Maslow kemudian mengembangkan minatnya untuk membaca dan belajar. Ya, Maslow tidak putus asah, dan selalu semangat mengejar cita-citanya. 

Menginjak masa remaja, sebagai anak muda, Maslow percaya bahwa kekuatan fisik menjadi karakter yang paling khas (tunggal) dari pria sejati, sehingga dia sering melakukan olahraga angkat berat, yaitu dengan harapan bahwa kondisi tubuhnya berubah menjadi lebih sangat berotot, sebagaimana umumnya tampak pada pria-pria yang tangguh. 

Namun pada akhirnya dia tidak dapat mencapai hal itu. Diketahui bahwa Maslow pernah masuk dan bekerja di Boys High School, salah satu sekolah menengah atas di Brooklyn. Di situ Maslow menjadi petugas dari banyak klub akademik, dan menjadi editor majalah Latin—selama satu tahun lamanya, ia juga menjadi pengedit principia, kertas fisika sekolah.

Secara keseluruhannya, masa remaja Maslow terasa sangat terisolasi—bahkan tidak bahagia. Karenanya, dalam sepanjang kurun waktu masa remajanya, ia hanya tumbuh dan menghabiskan seluruh waktunya di perpustakaan, yaitu diantara buku-buku yang selalu di bacanya.

Pada tahun 1926, Maslow mulai mengambil kelas studi bidang hukum, yang berkuliah pada malam hari di samping beban sarjana lainnya. Pada tahun 1927 ia pindah ke Cornell, tapi selanjutnya ia keluar setelah hanya berkuliah selama satu semester saja, karena nilai yang buruk dan biaya kuliah yang tinggi saat itu. 

Perjalanan Menuju Kesuksesan
Maslow berhasil lulus dalam tes masuk di City College, yang kemudian menempuh pendidikannya pada program studi pascasarjana di University of Wisconsin dalam bidang studi psikologi. 

Ketika berada di Wisconsin, ia sempat mengajarkan garis penelitian, yang sekaligus menyelidiki perilaku dari dominasi primata dan seksualitas.

Pengalaman awal Maslow bersama teori behaviorisme, mempengaruhinya untuk berpikir dengan pola pikir positivis yang sangat kuat. Kemudian, berdasarkan rekomendasi dari Profesor Hulsey Cason, Maslow menulis tesis masternya dengan judul "Learning, retention and reproduction of verbal material". 

Saat itu penelitiannya justru dianggap oleh para akademisi sebagai karya ilmiah yang paling bobrok dan memalukan. Namun, ia tetap terus menyelesaikan tesisnya hingga musim panas tahun 1931, yang pada akhirnya dia dianugerahi gelar master di bidang psikologi. 

Tetapi kemudian, Maslow begitu malu ketika tesisnya disingkirkan dari perpustakaan psikologi, bahkan daftar katalognya di robek. Namun, Profesor Carson mengagumi penelitian Maslow dan mendesaknya untuk mengirimkan kepadanya agar di publikasikan lagi. Akhirnya, tesis Maslow diterbitkan juga dalam bentuk dua artikel pada tahun 1934.

Karir akademik Maslow, yaitu dengan memperoleh gelar Bachelor pada tahun 1930, Magister pada tahun 1931, dan Doktor (Ph.D) pada tahun 1934. Selanjutnya Maslow memperdalam riset dan studinya di Universitas Columbia. Di sana ia bertemu dengan mentor lainnya, seperti Alfred Adler yang merupakan salah satu kolega awal Sigmund Freud. 


Dari tahun 1937 hingga tahun 1951, Maslow berada di fakultas Brooklyn College. Pada tahun 1928, Maslow menikah dengan sepupu pertamanya bernama Bertha yang masih duduk di bangku SMA pada waktu itu. Pasangan ini bertemu di Brooklyn, dimana saat itu Maslow melakukan pelatihan dalam kajian psikologi dengan dasar ilmu eksperimental-behavioris.

Setelah Perang Dunia II berakhir, Maslow terlibat dialog hebat dengan psikolog-psikolog lainnya, yaitu dengan mempertanyakan cara psikolog menyimpulkan teori-teori mereka—dan meskipun Maslow tidak sepenuhnya setuju—dia memiliki gagasan sendiri tentang cara memahami pikiran manusia. Sehingga saat itu disiplin psikologi humanistiknya disebutkan sebagai sesuatu yang baru dan luar biasa.

Maslow telah menjadi seorang ayah ketika berusia 33 tahun dan memiliki dua anak saat negara adikuasa Amerika Serikat memasuki Perang Dunia II yaitu pada tahun 1941. Saat itu ia tidak tertarik mengikuti kegiatan militer, dimana kengerian perang (bukan terinspirasi visi perdamaian dalam dirinya) membuatnya melakukan studi psikologis terobosan untuk manusia dapat mengaktualisasikan diri.

Studi tersebut dimulai dengan arahan dua mentornya, yaitu antropolog Ruth Benedict dan psikolog Gestalt Max Wertheimer, yang ia kagumi baik secara profesional dan kehidupan pribadi. Keduanya memang begitu berhasil di bidangnya masing-masing, dan sikap mereka yang terkesan rendah hati kepada siapa saja, seperti "manusia biasa", sehingga menginspirasi Maslow untuk mulai membuat catatan tentang mereka, khususnya kepribadian mereka berdua. 

Selanjutnya, melalui pribadi kedua mentornya tersebut, Maslow mendalami konsep “perilaku manusia”, yang dengan bekal ini, Maslow merumuskan konsep “hierarki kebutuhan” yaitu dengan rincian konsep metaneeds, metamotivation, serta aktualisasi diri orang dan puncak pengalaman.

Maslow menjadi profesor di Universitas Brandeis sekitar tahun 1951-1969, dan kemudian menjadi bagian dari Laughlin Institute di California. Selanjutnya, Maslow bangkit menjadi pelopor aliran humanistik psikologi yang terbentuk pada sekitar tahun 1950 hingga 1960-an. Ia menghabiskan masa pensiunnya di California, sampai meninggal karena serangan jantung pada tanggal 8 Juni 1970.

Kemudian Maslow dianugerahkan gelar terhormat dalam dunia ilmuwan sepanjang masa, yaitu “Humanist of The Year” oleh Asosiasi Humanis Amerika pada tahun 1967. Saat itu, Maslow terkena serangan jantung yang sangat fatal, dan diketahui waktunya terbatas. Kemudian, Maslow merasa bahwa sebagai pelopor psikologis, sebelum ajalnya tiba, dia harus memberikan dorongan psikolog masa depan dengan membawa konsep ini ke jalur yang berbeda dalam cahaya perenungannya. 

Maslow membangun kerangka psikologi humanistiknya yang selanjutnya diizinkan psikolog lain untuk menambahkan informasi lebih lanjut. Pada penghujung hidupnya, Maslow percaya bahwa kepemimpinan harus non-intervensi. Dia sangat konsisten dengan pendekatan ini, sehingga ia menolak nominasi pada tahun 1963 untuk menjadi Presiden dari Asosiasi Psikologi Humanistik, karena bagi Maslow, organisasi seharusnya mengembangkan gerakan intelektual tanpa pemimpin.

Hingga akhirnya, kehidupan sang jenius Yahudi ini berakhir ketika sedang melakukan olahraga jogging, lalu secara tiba-tiba serangan jantung menyerangnya saat itu, dan membuatnya menghembuskan nafas terakhir tepat tanggal 8 Juni 1970, pada usia 62 tahun di kota Menlo Park, California.

******
Dikutip dari Buku " Pendidikan Berbasis Goblok" (Halaman 95-102)
ISBN: 978-602-74103-8-1
Penulis: Abdy Busthan
Tahun terbit: 2017
Penerbit: Desna Life Ministry
Kota: Kupang






Dalam keberadaannya, semua yang dihasilkan oleh teknologi memiliki sifat dan prinsip-prinsip dasar yang sekaligus pula bisa menggambarkan bagaimana esensi teknologi itu sendiri. Berikut pembahasannya.



Sifat Teknologi
Menurut penjelasan Don Ihde (1990), dalam karya: “Technology and the Lifeworld: From Garden to Earth”, bahwa, teknologi bersifat netral dan tidak netral. 

Tidak netral. Hasil teknologi menjadi tidak netral ketika teknologi sebagai mediator antara manusia dan dunianya, yang kemudian mengubah pengalaman hidup manusia mengenai dunia tersebut. Budaya dalam hal ini pun ikut berubah dengan penerapan teknologi. Jadi, teknologi menjadi tidak netral akibat kekuasaan manusia sebagai penggunanya. Manusia dapat menggunakan teknologi sebagai sarana kekuasaan untuk mencapai tujuan dan kepentingan tertentu. 

Pada titik ini, teknologi mempunyai kecenderungan tertentu (latent telic). Alat teknologi tidak netral karena cenderung mengarahkan manusia sehingga ia tidak bebas nilai. Jadi, teknologi pada kondisi tidak netral, memberi kesan bahwa teknologi menentukan jalan hidup manusia. 

Netral. Pada sisi lain, hasil teknologi dipandang sebagai sesuatu yang netral, karena alat teknologi sesungguhnya hanya bersifat positif dan negatif apabila dipakai oleh manusia untuk tujuan tertentu. Artinya, manusialah yang menentukan arah teknologi ini (bisa negatif, juga bisa positif). Jadi, teknologi pada dirinya sendiri adalah sesuatu yang netral adanya. Sebab tergantung pada manusia yang menggunakannya. 

Di sini teknologi bisa bersifat destroy (menghancurkan) dan bisa pula bersifat profitable (menguntungkan). Bisa digambarkan bahwa teknologi ibarat sebuah pistol di tangan polisi dan pasien di tangan dokter. Pistol bisa membunuh orang yang tidak bersalah jika digunakan dengan sembarangan, dan pistol bisa pula membawa keuntungan untuk menembak mati penjahat jika digunakan Polisi secara tepat. Begitupun dengan pasien ditangan dokter. Pasien akan mendapat kesembuhan jika dokter mengobatinya secara jujur dengan memberikan pengobatan yang tepat, dan bisa pula penyakit pasien bertambah parah jika dokter tidak jujur dan asal-asalan mengobatinya. 

Prinsip Teknologi
Menurut Busthan Abdy (2017:25), prinsip teknologi dapatlah dijelaskan dengan kedua kalimat berikut: “The more complete, it will destroy” dan “The more not complete, will bring profits”. Artinya bahwa, semakin lengkap suatu teknologi, maka ia akan semakin menghancurkan penggunanya. Sedangkan semakin tidak lengkap suatu teknologi, maka ia akan membawa keuntungan tersendiri bagi penggunanya.

Hasil teknologi yang di buat secara lengkap untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu, akan menggeser peran manusia dalam berpikir dan bekerja, karena semuanya sudah dikerjakan oleh alat-alat teknologi tersebut. Tentu pada kondisi seperti ini, manusia tidak lagi bisa berpikir dan mengembangkan idenya sendiri, dan akhirnya akan mengubur dan memasung kreatifitas yang dimiliki oleh manusia itu sendiri. Inilah ancaman teknologi yang nyaris sempurna. 

Sebaliknya, semakin tidak lengkap suatu alat teknologi, maka manusia akan semakin berperan di situ. Dan tentu dengan semakin banyak peran manusia ini, maka akan memunculkan ide-ide kreatif baru yang belum ada sebelumnya. Kondisi inilah yang akan membawa keuntungan tersendiri bagi manusia. 

Daftar Pustaka:
Busthan Abdy (2017). Media & Multimedia dalam Teknologi Pembelajaran: Konsep, Prinsip dan Aplikasi. Kupang: Desna Life Ministry



Dalam peradaban manusia di alam ini, Yudas adalah lambang “manusia pengkhianat”. Jika nama Yudas dibicarakan maka orang akan mengenang kembali peristiwa penghianatan sang murid Kristus ini dengan kasus suap berjumlah 30 keping uang yang terbuat dari perak (Matius 26:14-16);(band. Zakharia 11:12).

Injil Matius dan Injil Markus menempatkan awal pengkhianatan Yudas Iskariot setelah peristiwa pengurapan Yesus oleh Maria, saudara Lazarus, di rumah Simon si kusta, di kota Betania, 6 hari sebelum Paskah (Matius 26:6-13; Markus 14:3-9; Yohanes 12:1-8).

Injil Yohanes mencatat, Yudas Iskariot menggalang murid-murid Yesus untuk menunjukkan rasa tidak senang, bahwa minyak narwastu yang mahal itu dibuang percuma untuk mengurapi kepala dan kaki Yesus Kristus. 

Hal itu dikatakannya bukan karena Yudas memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya (Yohanes 12:4-6). 

Yesus menegurnya bahwa pengurapan ini untuk mempersiapkan penguburan-Nya, sehingga kemungkinan Yudas menjadi marah tersinggung dan juga kecewa karena Yesus tidak berniat untuk memberontak terhadap orang Romawi, melainkan malah bersiap untuk mati.

Karena itu masuklah Iblis ke dalam Yudas, dan pergilah ia kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah dan berunding dengan mereka, bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka. Yudas berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?". Mereka sangat gembira waktu mendengarnya dan mereka berjanji akan memberikan uang kepadanya, 30 uang perak. Dan mulai saat itu Yudas mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus tanpa setahu orang banyak (Matius 26:14-16; Markus 14:10-11; Lukas 22:3-6). Keempat Injil sepakat bahwa pengkhianatan ini terjadi beberapa hari sebelum malam penangkapan Yesus.

Dari uraian diatas, pada prinsipnya, pengkhianatan Yudas adalah cermin penolakan manusia terhadap kehadiran Mesias. Pada konteks ini, Kristus justru ditolak oleh orang dekat-Nya sendiri—kalangan sendiri—murid-Nya sendiri (lihat nubuatannya dalam Mazmur 41:10; Mazmur 55:13-15; Zakharia 11:12-13); (bandingkan Yohanes 13:18; Matius 27:9-10). 

Mungkin secara tidak langsung, penolakan Yudas ini lebih bersifat tidak langsung. Artinya bahwa, Yudas melakukan hal ini tidak didasari oleh maksud untuk menolak Kristus, tetapi lebih kepada ketamakannya dalam memperoleh keuntungan dan kesenangannya sendiri. Apapun caranya, akan dia lakukan untuk memperoleh keuntungannya sendiri, tanpa mempedulikan orang lain disekitar dia—asalkan dia senang dan puas!

Sebagaimana dikatakan oleh Hollet & Macartney (2010: 104-105) bahwa, Yudas demi keuntungan dan kemenangan duniawi bertindak keterlaluan terhadap Yesus, sehingga Yudas tertipu dengan ketamakannya sendiri. 

Yudas tidak bersalah karena dengan sengaja membunuh Yesus, tetapi ia justru bersalah karena ketamakan dan keserakahan untuk memuaskan hasrat duniawinya—dalam batin Yudas bukan pengkhianat, tetapi serakah dan tamak—menurut Uskup Besar Whately, “Perbedaan antara Iskariot dan teman-teman rasulnya adalah bahwa walaupun mereka semua mempunyai harapan dan dugaan yang sama, namun berbeda dengan Yudas yang berani bertindak berdasarkan dugaannya yang menyimpang dari jalan biasa, yaitu tugasnya yang sudah ia ketahui untuk mengikuti perhitungan kebijaksanaan duniawinya dan rencana-rencana ambisi duniawinya” (Discourse on the Treason of Judas Iscariot and Notes, dalam Busthan Abdy, 2017).

Panggilan Yudas menjadi murid Kristus tidak tercatat dengan pasti. Namun, jelas bahwa ia mengikuti Yesus atas kemauannya sendiri. Nama Yudas sendiri berasal dari kata “Judah” yang artinya “Yahweh memimpin”. Tentunya nama ini diberikan oleh orang tuanya dengan harapan bahwa kelak ia akan dipimpin oleh Tuhan. 

Jika di lihat dari nama marganya: “Iskariot” yang di dapat dari istilah bahasa Yahudi “Ish” (manusia), maka Yudas ini berasal dari sebuah kota yang bernama “Kerioth”—dia adalah orang dari Kerioth-hezron (bandingkan Yosua 15:25), yaitu sebuah kota kecil di selatan Yudea. 

Sehingga Yudas adalah satu-satunya Rasul yang tidak berasal dari Galilea—sebagaimana banyak rasul lainnya sebelum mengenal Kristus, mereka sudah saling kenal karena merupakan teman masa kecil, saudara sepupu, teman dan rekan kerja.

Menurut MacArthur (2013: hlm. 211), ketidakakraban murid-murid Yesus asal Galilea dengan Yudea pasti telah membantu dan mendorong Yudas untuk menjadi seorang pembohong. Sebab murid-murid hanya tahu sedikit tentang keluarga dan latarbelakang Yudas sebelum menjadi murid Yesus. Sehingga hal ini sangat mudah bagi Yudas untuk berperan sebagai orang munafik. 

Pertanyaannya, mengapa Yudas mengkhianati Kristus? Apa yag menjadi alasannya? Terdapat dua perspektif jawaban yang dapat dikemukakan untuk menjawab kedua pertanyaan ini. 

Pertama, kita tidak mungkin dapat mengurangi dan menambahkan perkataan Alkitab mengenai hal ini. Peristiwa pengkhianatan Yudas memang sudah dinubuatkan sebelumnya, dan memang benar-benar tergenapi, seperti nubuat pada Mazmur 41:10; Mazmur 55:13-15; Zakharia 11:12-13. 

Jika tak ada Yudas, siapakah yang menggantikan posisinya untuk melengkapi proses keselamatan manusia melalui penyaliban Kristus? 

Menurut MacArthur dalam Busthan Abdy (2017), firman Tuhan mengatakan bahwa ketika Yesus memilih Yudas, Ia tahu bahwa Yudas akan menjadi orang yang menggenapi nubuatan pengkhianatan itu. Ia jelas memilihnya untuk menggenapi rencana itu. 

Pertanyaannya, apakah Yudas bersalah? Sebab hal ini di luar kontrol dirinya? Untuk menjawabnya, mari kita lihat perspektif kedua berikut ini.

Kedua, tidak berarti bahwa Yudas terpaksa melakukan apa yang dilakukannya. Sebab tidak ada tangan yang tidak kelihatan yang memaksanya untuk mengkhianati Kristus. Yudas bertindak bebas dan tanpa paksaan pihak luar. 

Dia bertanggungjawab atas tindakannya sendiri. Memang dilain pihak Yesus sendiri memilihnya. Namun ketegangan antara kedaulatan Ilahi dan pilihan manusia yang kemudian dimanifestasikan dalam panggilan Yudas sendiri, sama seperti murid Kristus lainnya. 

Mereka semua memilih untuk mengikut Yesus, tetapi sesungguhnya Yesuslah yang terlebih dahulu memilih mereka (Yohanes 15:16). Demikian juga Yudas memilih mengikut Yesus, dan ia juga dipilih oleh Yesus. Namun pilihan ada ditangan Yudas. 

Yudas kemudian terjebak dalam keangkuhan duniawinya sendiri, sehingga jatuh kedalam dosa pengkhiantannya serta harus dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri, karena memang dia dikuasai oleh iblis.

Dari kedua hal di atas, dapat di tarik 3 (tiga) pedoman dasar penting untuk memahami pengkhianatan Yudas, yaitu: 
  1. Kita tidak boleh meragukan kesungguhan panggilan Yesus. Pada mulanya Yesus memandang Yudas sebagai murid dan pengikut berbakat. Tidak ada pra dalil lain untuk menilai benar-tidaknya kebijakan Yesus, juga himbauan-Nya yang berulang-ulang kepada Yuda 
  2. Pra pengetahuan Yesus tidak mencakup pra penentuan, bahwa Yudas secara tak terelakkan harus menjadi pengkhianat;
  3. Yudas tak pernah sungguh-sungguh murid Yesus. Dia jatuh dari jabatan rasul, tapi ia tak pernah mempunyai persekutuan yang sungguh dengan Yesus. 
Matius 26:14 menulis, .. Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Matius 26:15, .. Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Matius 26:16, .. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Tulisan ini diambil dari buku:
Busthan Abdy. (2017). Mesias dalam Progeni. Kupang: Desna Life Ministry

Profil Saya

{picture#https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg6vbBZ2pWiZ3UT6KzmydJsI8uu2evuDFDFRWIfl2X4fVu5h281O_CQlp3axcC7ZJpfx2f2br7EPr6mDG9Mdpg-3IC2EUHXJ9rFDRNcrs3wlJGMJ5HrazVTt8Z8Y4_-8oQVkBbWYmQD-ig/s640/r56722.jpg} Abdy Busthan adalah Dosen dan Teknolog Pembelajaran, serta pembina dan peneliti di Jurnal Ilmiah Flobamora Science. Dibesarkan di kota Nabire, Papua. {facebook#https://www.facebook.com/AbdyBS/} {twitter#https://twitter.com/abdybusthan} {google#https://busthan-abdy.blogspot.com/} {pinterest#https://id.pinterest.com/abdybusthan213/} {youtube#https://www.youtube.com/channel/UCnLMvY91iOTKgfvwd2hfJsg?view_as=subscriber} {instagram#https://www.instagram.com/busthanabdy/}
Theme images by sbayram. Powered by Blogger.